Selasa, 25 Desember 2012

Soekarno itu Sakti

Soekarno memang karismatik dan
pintar, namun faktor utama
mengapa ia sangat disegani di dunia
bukanlah semata karena itu.
Ada sekian banyak pemimpin pintar
dan karismatik di dunia kala itu,
namun tak serta merta
mendapatkan penerimaan yang
istimewa seperti Soekarno.
Salah satu faktor utama mengapa ia
sangat disegani adalah karena ia
dengan sekuat upaya memproteksi
Indonesia dari intervensi
pengelolaan pihak asing terhadap
kekayaan bumi Indonesia.
Para pihak asing yang ingin
"meminang" ibu pertiwi yang kala
itu "masih perawan", menghadapi
Soekarno bagaikan menghadapi
calon mertua yang tegas dan sulit
kompromi.
Mereka memasang muka seramah
mungkin dan bersikap sehormat
mungkin dalam rangka mencari
simpati Soekarno; segala hal
ditawarkan, dari mulai bingkisan,
oleh-oleh, bahkan mungkin cheque,
deposito dan lifetime saving -
semuanya adalah untuk mencari
simpatik agar Soekarno
mengijinkan mereka mengawini ibu
pertiwi dan menggagahi
keperawanannya bahkan
kehormatannya. (Terutama) Negara-
negara kapitalis tahu betul, seperti
juga Soekarno yang sangat tahu,
TST lah pokoknya; Indonesia
memiliki kekayaan yang luarbiasa,
yang jauh daripada yang umum
ketahui dan bayangkan.
Bahkan jauh lebih kaya daripada
yang pernah dibayangkan manusia.
Beberapa orang mencemooh
pembangunan Stadion dan Monas
(emas) saat itu sebagai pemborosan
biaya Negara; Soekarno tahu,
Indonesia, jika dikelola dengan
benar, bisa membuat ratusan
Monas dan puluhan stadion lainnya
tanpa harus khawatir membuat
pengurangan yang berarti terhadap
kekayaan Negara.
Dengan segala cara, akhirnya
mereka menemukan jalan:
menggunakan kekuatan dalam
untuk menghancurkan posisi
Soekarno. Singkat kata, mereka
berhasil menggunakan Soeharto
untuk mendongkel Soekarno dari
tongkat kekuasaan.
Cara ini membuka jalan yang lebar
bagi mereka untuk mulai
menggagahi ibu pertiwi sedikit
demi sedikit namun sangat
sistematis. Ibu pertiwi tidak lagi
berada pada tangan perwalian yang
ekstra protektif seperti Soekarno.
Wali pertiwi setelah Soekarno,
beserta para kroni-kroninya
sungguh tergila-gila akan berbagai
macam insentif yang diberikan
pihak asing untuk dapat mengawini
ibu pertiwi dan mengekspoitirnya.
Mulai sejak saat itu, tak ada lagi
respek dan segan yang dulu kita
dapatkan.
Tak ada urgensinya mereka
bersikap sopan dan ramah lagi
terhadap “mertua yang anaknya
sudah mereka eksploitasi
kecantikan dan keperawanannya”.
Bahkan mertuanya pun makin lama
juga makin tak berdaya. Saat ini
kita memang memiliki tanah,
namun bukan kandungan
kekayaannya. Memiliki air, namun
bukan profitnya (ingat Danone –
Aqua, dan Thames –PAM; juga
pencurian ikan dll. di lautan), serta
dan hutan. Bahkan angkasapun
sepertinya kita sudah tak memiliki
otoritas terhadapnya.
Rakyat jelata sekarang sudah
dipilah oleh bilah etalase terhadap
kekayaan negaranya sendiri. Jika
Negara ini adalah sapi yang sehat
dan gemuk, rakyat hanyalah kutu
kecil di kulit badannya. Sebagian
banyak dari kita hanyalah
mengontrak di rumah orang tua
sendiri. Presiden-presiden
selanjutnya sudah tidak bisa
berbuat banyak.
Kekuatan asing di Negara kita,
secara politik-ekonomis, sudah
terlalu mengakar kuat. Kita hanya
memiliki body-nya, mesin dan
sistemnya sudah terkendalikan
secara remote dari luar. Kita hanya
ribet berkutat pada persoalan-
persoalan superficial dan non-
esensial.
Patung bekasi, lah, haram
rebonding lah, Ariel-Luna, lah, dll.
Kita sudah lama mengalami
pengebirian otak dan hati. Kita
sudah nyaris lupa jati diri dan
esensi berbangsa dan bernegara.
Kita sudah menjadi spesies manusia
baru; DNA yang mengandung unsur
“eling”-nya sudah dimodifikasi oleh
berbagai faktor eksternal yang
berkepentingan.
Soekarno “sakti” karena paling
tidak satu hal: Ia memegang
amanat leluhur Nusantara dengan
segala daya dan upaya untuk
menjaga, melindungi dan
memajukan bangsa dan negaranya.

Published with Blogger-droid v2.0.9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar