Jumat, 28 Desember 2012

Jokowi dan marhaenisme

Saya ingin mencoba membahas
kepada pemikiran yang
dikembangkan Soekarno yaitu
Marhaenisme, Ajaran ini
menggambarkan kehidupan rakyat
kecil. Seperti petani, buruh, kaum
miskin kota yang hidupnya selalu
dalam cengkraman orang orang
kaya dan penguasa. Seperti dalam
sajak Widji Thukul berikut ini :
Bunga dan Tembok
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh
bersama
Dengan keyakinan: engkau harus
hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Widji Thukul, Solo - 1987
Marhaen konon adalah seorang
petani di daerah Soreang Kabupaten
Bandung. Waktu itu Soekarno muda
memang kuliah di Bandung, setelah
melihat Marhaen mungkin beliau
mulai berpikiran tentang
Marhaenisme ini.
Widji Thukul adalah seorang
penyair kelahiran Solo, anak dari
seorang tukang becak. Sebelum
menjadi buruh di sritex pernah
ngamen puisi dan juga jadi tukang
pelitur di pengrajin kayu. Sajak-
sajak Widji Thukul adalah suara-
suara kaum Marhaen yang selama
ini banyak dilupakan. Bahkan Widji
Thukul pada waktu itu bersama
Budiman Sudjatmiko ikut
menggawangi Partai Rakyat
Demokratik.
Marhaenisme sebetulnya adalah
landasan dasar Politik Soekarno
ketika membentuk PNI (Partai
Nasional Indonesia). Yang pada
masa sekarang Marhaenisme itu di
anut oleh PDI Perjuangan.
Saya tidak tahu jaman Pak Karno.
Tapi saya melihat Jokowi pada saat
inilah yang berhasil
mengejawantahkan Marhaenisme
dalam bahasa kerja, kerja dan
kerja.
Orang boleh bilang bahwa
kemiskinan di SOLO tinggi. Tapi
bagi Jokowi mereka inilah kaum-
kaum Marhaen yang harus di
“lindungi” bukan di campakkan.
Sebagai orang sekitar eks-
Karesidenan Surakarta pasti tahu
watak Solo seperti apa. Jangan
dipikir bahwa memindahkan PKL itu
perkara mudah [sudah 4 kali kantor
walikota dibakar oleh PKL yang
menolak dipindahkan]. Jangan
dipikir bahwa merenovasi 17 pasar
tradisional dan menolak Mall itu
perkara mudah. Jangan menganggap
bahwa membuat sistem kartu
pintar:platinum, gold, silver, kartu
sehat:gold, silver itu adalah perkara
mudah. dll dll. Jika anda
menganggap bahwa kerja Jokowi di
SOLO adalah sebuah kerja besar.
Maka anda akan memahami kenapa
pada pilihan periode II, 93%
masyarakat SOLO memilih JOKOWI
kembali.
SOLO mungkin memang kota biasa
dibandingkan JAKARTA. Tapi coba
tanya setiap tukang becak yang
anda temui di kota SOLO. Apa
komentar mereka tentang JOKOWI.
Masyarakat SOLO tidak rela jika
Jokowi nyalon di Jakarta malah
dicaci maki. SOLO selalu menanti
JOKOWI, menang atau kalah
JOKOWI tetap dihati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar