Pertama, Pancasila sendiri
merupakan Ideologi dan dasar
negara Republik Indonesia. Kata
Pancasila berasal dari dua buah
kata dari bahasa sansekerta yaitu
Panca berarti lima dan Sila yang
berarti dasar.
Garuda adalah adaptasi dari
Garida yang dalam mitologi
Hindu India berbentuk manusia
berwarna emas, berwajah putih,
berparuh dan bersayap merah.
Diperkirakan sosok ini adalah
adaptasi Hindu terhadap Dewa
Ra/Bennu dalam mitologi Mesir
kuno (DEWA HORUS). Garuda juga
banyak kesamaan dengan mitologi
Pha Krut (Thailand), Rukh (Arab),
Simurgh (Persia), Thunderbird
(Indian), Vurumahery
(Madagaskar) dan Phoenix (Yunani
Kuno).
Di Indonesia mitologi Garuda
sudah ada sejak abad ke-6 dengan
digunakannya Garuda sebagai
lambang pada Kerajaan Mataram
Kuno (Garudamukha), Kerajaan
Kedah (Garudagaragasi), Kerajaan
Sumatera dan Kerajaan Sintang
Kalimantan. Dalam Kesusastraan
(pewayangan) Garuda yang
disebut Garudeya dikenal sebagai
kendaraan Bathara Kresna/Dewa
Wisnu sebagai dewa pencipta dan
pemelihara. Selain itu di beberapa
candi juga terdapat artefak
bermotif Garuda seperti pada
candi Prambanan, candi Belahan,
Candi Kidal, Candi Kedaton dan
Candi Sukuh. Jadi simbol Garuda
Pancasila sebenarnya terselip
ajaran Paganisme Hindu yang jika
ditarik kebelakang berasal dari
ajaran Mesir Kuno yaitu Thagut
Fir'aun dan dibawa keseluruh
dunia oleh para Freemason/
Laskar Iblis.
Kedua, Fakta yang cukup
mencengangkan. Dikatakan bahwa
kaum-kaum pagan dari zaman
dulu selalu melembagakan
keyakinannya secara nyata dalam
bentuk negara atau pemerintahan
dan membuat lambang-lambang
dari bentuk burung sebagai
lambang negaranya.
PANCASILA terinspirasi dari kitab
Talmud ??
Sebagai gerakan zionisme
internasional, freemasonry
memiliki doktrin Khams Qanun
yang diilhami Kitab Talmud.
Yaitu,:
1.monoteisme (ketuhanan yang
maha esa),
2. nasionalisme (berbangsa,
berbahasa, dan bertanah air satu
Yahudi),
3. humanisme (kemanusiaan yang
adil dan beradab bagi Yahudi),
4. demokrasi (dengan cahaya
talmud suara terbanyak adalah
suara tuhan),
5. dan sosialisme (keadilan sosial
bagi setiap orang Yahudi). (Syer
Talmud Qaballa XI:45).
JAWABAN ATAS SYUBHAT SILA
PERTAMA “KETUHANAN YANG
MAHA ESA”
Di antara kaum muslimin ada
yang menjadikan argumentasi sila
pertama tersebut di atas sebagai
dalil bahwa negeri ini adalah
negeri muslim berasaskan tauhid,
benarkah demikian?
1. Seseorang disebut sebagai
muwahhid jika ia menjadikan
Allah saja satu-satunya sebagai
ilah. Dalilnya begitu banyak
diantaranya:
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang
Maha Esa, (Q.S. Al-Ikhlas : 1)
Adapun sila pertama di atas
adalah bentuk monotheisme yang
sungguh berbeda dengan tauhid
karena tauhid secara definitive
menjadikan Allah sebagai satu-
satunya ilah. Sedangkan
monotheisme tidak, ia
menyadarkan ketuhanannya
kepada siapa saja asalkan jumlah
tuhannya satu/esa. Contoh
bukankah Fir’aun juga menjadikan
dirinya Tuhan satu-satunya yang
mengharuskan penduduknya
menyembah kepadanya? Maka ini
bisa disebut sebagai
monotheisme.
2. Pidato Soekarno berikut ini
mempertegas argumentasi di atas:
Prinsip yang kelima hendaknya:
Menyusun Indonesia Merdeka
dengan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Prinsip
Ketuhanan! Bukan saja bangsa
Indonesia bertuhan, tetapi
masing-masing orang Indonesia
hendaknya bertuhan. Tuhannya
sendiri. Yang Kristen menyembah
Tuhan menurut petunjuk Isa al
Masih, yang Islam bertuhan
menurut petunjuk Nabi Muhamad
s.a.w, orang Budha menjalankan
ibadatnya menurut kitab-kitab
yang ada padanya. Tetapi marilah
kita semuanya ber-Tuhan.
Hendaknya Negara Indonesia
ialah negara yang tiap-tiap
orangnya dapat menyembah
Tuhannya dengan cara yang
leluasa. Segenap rakyat
hendaknya “ber-Tuhan secara
kebudayaan”, yakni dengan tiada
“egoisme-agama”.
Perhatikan statement nyeleneh
Soekarno pada kalimat yang
bertanda kutip, untuk lebih
memperjelas apa maksud sila
ketuhanan tersebut yakni “ber-
Tuhan secara kebudayaan”
3. KH. Firdaus AN salah seorang
saksi sejarah menulis dalam
bukunya, Dosa-dosa Politik Orde
Lama dan Orde Baru sbb:
Ketuhanan adalah kata imbuhan
dengan awalan “ke” dan akhiran
“an.” Kata yang seperti itu ada
dua arti.
Pertama, berarti menderita.
Seperti kedinginan ,menderita
dingin; kepanasan, menderita
panas. Kehausan, menderita haus,
dan sebagainya.
Kedua, berarti banyak.
Ketumbuhan, banyak yang
tumbuh, seperti penyakit campak
atau cacar yang tumbuh di badan
seseorang. Kepulauan, banyak
pulau; Ketuhanan, berarti banyak
Tuhan. Jadi kata Ketuhanan Yang
Maha Esa adalah Contradictio in
Terminis (Pertentangan dalam
tubuh kata-kata itu sendiri) Mana
mungkin banyak Tuhan disebut
yang maha esa. Dalam bahasa
Arab, itu disebut
“Tanaqudh” (pertentangan awal
dan akhir). Logika ini jelas tidak
sehat, bertentangan dengan
kaidah ilmu bahasa. Jelaslah, kata
Ketuhanan itu syirik. Dan kalau
yang dituju itu memang Tauhid,
maka rumusannya yang tepat
adalah Pengabdian kepada Tuhan
Allah Yang Maha Esa. Padahal
Presiden Soeharto sendiri
menegaskan: “Jangan masukkan
nilai dari paham lain (Islam, Pen.)
ke dalam Pancasila” (Kompas, 21
Mei 1991).
Senin, 17 Desember 2012
FAKTA SEJARAH PANCASILA
Published with Blogger-droid v2.0.9
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar