Jumat, 21 Desember 2012

Alasan Haram bagi muslim mengucapkan selamat natal

Mungkin tidak lama lagi, akan
terdengar, akan terpampang tulisan
yang dibaca “ Merry Christmas”,
atau yang artinya Selamat Hari
Natal. Dan biasanya, momen ini
disandingkan dengan ucapan
Selamat Tahun Baru.
Sebagian orang menganggap ucapan
semacam itu tidaklah bermasalah,
apalagi yang yang berpendapat
demikian adalah mereka orang-
orang kafir. Namun hal ini menjadi
masalah yang besar, ketika seorang
muslim mengucapakan ucapan
selamat terhadap perayaan orang-
orang kafir.
Dan ada juga sebagian di antara
kaum muslimin, berpendapat
nyeleneh sebagaimana pendapatnya
orang-orang kafir. Dengan alasan
toleransi dalam beragama!?
Toleransi beragama bukanlah
seperti kesabaran yang tidak ada
batasnya. Namun toleransi
beragama dijunjung tinggi oleh
syari’at, asal di dalamnya tidak
terdapat penyelisihan syari’at.
Bentuk toleransi bisa juga
bentuknya adalah membiarkan saja
mereka berhari raya tanpa turut
serta dalam acara mereka,
termasuk tidak perlu ada ucapan
selamat.
Islam mengajarkan kemuliaan dan
akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya
perlakuan baik terhadap sesama
muslim, namun juga kepada orang
kafir. Bahkan seorang muslim
dianjurkan berbuat baik kepada
orang-orang kafir, selama orang-
orang kafir tidak memerangi kaum
muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻻ ُﻢُﻛﺎَﻬْﻨَﻳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻦَﻋ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ْﻢَﻟ
ْﻢُﻛﻮُﻠِﺗﺎَﻘُﻳ ﻲِﻓ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ ْﻢَﻟَﻭ ﻢُﻛﻮُﺟِﺮْﺨُﻳ
ﻦِّﻣ ْﻢُﻛِﺭﺎَﻳِﺩ ْﻢُﻫﻭُّﺮَﺒَﺗ ﻥَﺃ ﺍﻮُﻄِﺴْﻘُﺗَﻭ
ْﻢِﻬْﻴَﻟِﺇ َّﻥِﺇ ُّﺐِﺤُﻳ َﻪَّﻠﻟﺍ َﻦﻴِﻄِﺴْﻘُﻤْﻟﺍ
“Allah tiada melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku
adil terhadap orang-orang yang
tiada memerangimu karena
agama dan tidak (pula) mengusir
kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku
adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)
Namun hal ini dimanfaatkan oleh
sebagian orang untuk
menggeneralisir sikap baik yang
harus dilakukan oleh seorang
muslim kepada orang-orang kafir.
Sebagian orang menganggap bahwa
mengucapkan ucapan selamat hari
natal adalah suatu bentuk
perbuatan baik kepada orang-orang
nashrani. Namun patut dibedakan
antara berbuat baik (ihsan) kepada
orang kafir dengan bersikap loyal
(wala) kepada orang kafir.
Alasan Terlarangnya Ucapan
Selamat Natal
1- Bukanlah perayaan kaum
muslimin
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah menjelaskan bahwa perayaan
bagi kaum muslimin hanya ada 2,
yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul
Adha.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
berkata : “Ketika Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam datang ke
Madinah, penduduk Madinah
memiliki dua hari raya untuk
bersenang-senang dan bermain-
main di masa jahiliyah. Maka beliau
berkata : Aku datang kepada kalian
dan kalian mempunyai dua hari
raya di masa Jahiliyah yang kalian
isi dengan bermain-main. Allah
telah mengganti keduanya dengan
yang lebih baik bagi kalian, yaitu
hari raya kurban (‘Idul Adha) dan
hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad,
shahih).
Sebagai muslim yang ta’at,
cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu
‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-
baik petunjuk.
2- Menyetujui kekufuran orang-
orang yang merayakan natal
Ketika ketika mengucapkan selamat
atas sesuatu, pada hakekatnya kita
memberikan suatu ucapan
penghargaan. Misalnya ucapan
selamat kepada teman yang telah
lulus dari kuliahnya saat di wisuda.
Nah,begitu juga dengan seorang
yang muslim mengucapkan selamat
natal kepada seorang nashrani.
Seakan-akan orang yang
mengucapkannya, menyematkan
kalimat setuju akan kekufuran
mereka. Karena mereka
menganggap bahwa hari natal
adalah hari kelahiran tuhan
mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish
shalatu wa sallam. Dan mereka
menganggap bahwa Nabi ‘Isa
adalah tuhan mereka. Bukankah hal
ini adalah kekufuran yang sangat
jelas dan nyata?
Padahal Allah Ta’ala telah
berfirman,
ْﻢُﻜَﻟ ْﻢُﻜُﻨﻳِﺩ ِﻦﻳِﺩ َﻲِﻟَﻭ
“Bagimu agamamu, bagiku
agamaku .” (QS. Al-Kafirun: 6).
3- Merupakan sikap loyal (wala)
yang keliru
Loyal (wala) tidaklah sama dengan
berbuat baik (ihsan). Wala memiliki
arti loyal, menolong, atau
memuliakan orang kita cintai,
sehingga apabila kita wala terhadap
seseorang, akan tumbuh rasa cinta
kepada orang tersebut. Oleh karena
itu, para kekasih Allah juga disebut
dengan wali-wali Allah.
Ketika kita mengucapkan selamat
natal, hal itu dapat menumbuhkan
rasa cinta kita perlahan-lahan
kepada mereka. Mungkin sebagian
kita mengingkari, yang diucapkan
hanya sekedar di lisan saja. Padahal
seorang muslim diperintahkan
untuk mengingkari sesembahan-
sesembahan oarang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
ْﺪَﻗ ْﺖَﻧﺎَﻛ ْﻢُﻜَﻟ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ﻲِﻓ
َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻪَﻌَﻣ ْﺫِﺇ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ
ْﻢِﻬِﻣْﻮَﻘِﻟ ﺎَّﻧِﺇ ﺀﺍَﺮُﺑ ْﻢُﻜﻨِﻣ ﺎَّﻤِﻣَﻭ
َﻥﻭُﺪُﺒْﻌَﺗ ﻦِﻣ ِﻥﻭُﺩ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻧْﺮَﻔَﻛ ْﻢُﻜِﺑ
ﺍَﺪَﺑَﻭ ﺎَﻨَﻨْﻴَﺑ ُﺓَﻭﺍَﺪَﻌْﻟﺍ ُﻢُﻜَﻨْﻴَﺑَﻭ
ﺀﺎَﻀْﻐَﺒْﻟﺍَﻭ ًﺍﺪَﺑَﺃ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻨِﻣْﺆُﺗ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ
ُﻩَﺪْﺣَﻭ
“Sesungguhnya telah ada suri
tauladan yang baik bagimu pada
Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia; ketika
mereka berkata kepada kaum
mereka: “Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari
daripada apa yang kamu sembah
selain Allah, kami ingkari
(kekafiran) mu dan telah nyata
antara kami dan kamu
permusuhan dan kebencian buat
selama-lamanya sampai kamu
beriman kepada Allah saja.” (Qs.
Al Mumtahanah: 4)
4- Nabi melarang mendahului
ucapan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
َﻻ ﺍﻭُﺀَﺪْﺒَﺗ َﺩﻮُﻬَﻴْﻟﺍ ﻯَﺭﺎَﺼَّﻨﻟﺍ َﻻَﻭ
ِﻡَﻼَّﺴﻟﺎِﺑ
“Janganlah kalian mendahului
Yahudi dan Nashara dalam salam
(ucapan selamat). ” (HR. Muslim
no. 2167). Ucapan selamat natal
termasuk di dalam larangan hadits
ini.
5- Menyerupai orang kafir
Tidak samar lagi, bahwa sebagian
kaum muslimin turut berpartisipasi
dalam perayaan natal. Lihat saja
ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan,
dan pusat perbelanjaan. Sebagian
dari kaum muslimin ada yang
berpakaian dengan pakaian khas
perayaan natal. Padahal Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
melarang kaum muslimin untuk
menyerupai kaum kafir.
ْﻦَﻣ َﻪَّﺒَﺸَﺗ َﻮُﻬَﻓ ٍﻡْﻮَﻘِﺑ ْﻢُﻬْﻨِﻣ
“Barangsiapa yang menyerupai
suatu kaum, maka dia termasuk
bagian dari mereka .” (HR. Ahmad
dan Abu Dawud)
Pembicaraan Kelahiran Isa
dalam Al Qur’an
Bacalah kutipan ayat di bawah ini.
Allah Ta’ala berfirman,
ُﻪْﺘَﻠَﻤَﺤَﻓ ْﺕَﺬَﺒَﺘْﻧﺎَﻓ ِﻪِﺑ ﺎًﻧﺎَﻜَﻣ ﺎًّﻴِﺼَﻗ
ﺎَﻫَﺀﺎَﺟَﺄَﻓ (22) ُﺽﺎَﺨَﻤْﻟﺍ ِﻉْﺬِﺟ ﻰَﻟِﺇ
ِﺔَﻠْﺨَّﻨﻟﺍ ْﺖَﻟﺎَﻗ ﺎَﻳ ﻲِﻨَﺘْﻴَﻟ ُّﺖِﻣ َﻞْﺒَﻗ
ﺍَﺬَﻫ ُﺖْﻨُﻛَﻭ ﺎًﻴْﺴَﻧ ﺎًّﻴِﺴْﻨَﻣ (23)
ﺎَﻫﺍَﺩﺎَﻨَﻓ ْﻦِﻣ ﺎَّﻟَﺃ ﺎَﻬِﺘْﺤَﺗ ْﺪَﻗ ﻲِﻧَﺰْﺤَﺗ
َﻞَﻌَﺟ ِﻚُّﺑَﺭ ِﻚَﺘْﺤَﺗ ﺎًّﻳِﺮَﺳ (24) ﻱِّﺰُﻫَﻭ
ِﻚْﻴَﻟِﺇ ِﺔَﻠْﺨَّﻨﻟﺍ ِﻉْﺬِﺠِﺑ ْﻂِﻗﺎَﺴُﺗ ِﻚْﻴَﻠَﻋ
ﺎًﺒَﻃُﺭ ﺎًّﻴِﻨَﺟ (25)
“Maka Maryam mengandungnya,
lalu ia mengasingkan diri dengan
kandungannya itu ke tempat
yang jauh. Maka rasa sakit akan
melahirkan anak memaksa ia
(bersandar) pada pangkal pohon
kurma, dia berkata: ‘Aduhai,
alangkah baiknya aku mati
sebelum ini, dan aku menjadi
barang yang tidak berarti, lagi
dilupakan.’ Maka Jibril
menyerunya dari tempat yang
rendah: “Janganlah kamu
bersedih hati, sesungguhnya
Tuhanmu telah menjadikan anak
sungai di bawahmu. Dan
goyanglah pangkal pohon kurma
itu ke arahmu, niscaya pohon
itu akan menggugurkan buah
kurma yang masak
kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)
Kutipan ayat di atas menunjukkan
bahwa Maryam mengandung Nabi
‘Isa ‘alahis salam pada saat kurma
sedang berbuah. Dan musim saat
kurma berbuah adalah musim
semi. Jadi selama ini natal yang
diidetikkan dengan musim dingin
(winter), adalah suatu hal yang
keliru.
Penutup
Ketahuilah wahai kaum muslimin,
perkara yang remeh bisa menjadi
perkara yang besar jika kita tidak
mengetahuinya. Mengucapkan
selamat pada suatu perayaan yang
bukan berasal dari Islam saja
terlarang (semisal ucapan selamat
ulang tahun), bagaimana lagi
mengucapkan selamat kepada
perayaan orang kafir? Tentu lebih-
lebih lagi terlarangnya.
Meskipun ucapan selamat hanyalah
sebuah ucapan yang ringan, namun
menjadi masalah yang berat dalam
hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di
antara kaum muslimin yang
membantu perayaan natal. Misalnya
dengan membantu menyebarkan
ucapan selamat hari natal, boleh
jadi berupa spanduk, baliho, atau
yang lebih parah lagi memakai
pakaian khas acara natal (santa
klaus, pent.)
Allah Ta’ala telah berfirman,
ﺍﻮُﻧَﻭﺎَﻌَﺗَﻭ ﻰَﻠَﻋ ِّﺮِﺒْﻟﺍ ﻯَﻮْﻘَّﺘﻟﺍَﻭ ﺎَﻟَﻭ
ﻰَﻠَﻋ ﺍﻮُﻧَﻭﺎَﻌَﺗ ِﻢْﺛِﺈْﻟﺍ ِﻥﺍَﻭْﺪُﻌْﻟﺍَﻭ
“Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah:
2).

Published with Blogger-droid v2.0.9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar