Siapa yang nggak kenal dengan
sosok Bob Sadino? Seorang opa-
opa yang sukanya mengenakan
celana pendek kemana-mana, nggak
peduli acaranya apa dan ketemu
siapa, gayanya tetap saja santai
dengan celana pendek setengah
lutut. Bukan cuma penampilannya
yang mengejutkan, namun juga
karakternya.
Bob Sadino, seorang wiraswasta
yang memulai usahanya dari jualan
telur hingga akhirnya sekarang
bisnisnya merambah ke sektor
properti. Banyak yang bilang kalau
Bob Sadino itu gila, nggak waras.
Untungnya di sekeliling saya ada
beberapa orang yang berkarakter
out of the box seperti Bob Sadino,
jadinya nggak terlalu kaget ketika
membaca buku yang berjudul "Bob
Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!"
ini.
Buku ini sebenarnya buku lama,
terbitan tahun 2009. Tapi yang
namanya ilmu, nggak ada habisnya
untuk dishare.
Oke, dalam buku ini ada beberapa
poin menarik tentang wirausaha ala
Bob Sadino. Saya menyukai apa
yang dipaparkannya. Memang gila,
karena memang seperti itulah ia,
sangat out of the box dan di luar
kurva normal pada umumnya.
Roda Bob Sadino
Roda Bob Sadino, yang selanjutnya
disingkat RBS adalah sebuah konsep
yang dibuat Bob Sadino untuk
menjelaskan tentang tahapan-
tahapan/proses-proses
pembelajaran para enterpreneur
pada khususnya dan orang-orang
pada umumnya. Roda Bob Sadino
ini tidak hanya berguna dalam
bidang enterpreneurship saja,
namun juga berguna untuk segala
bidang.
Menurut Bob Sadino, sejatinya
seseorang itu mulai dari kuadran
TAHU (teori), lalu bergerak ke
kuadran BISA (praktik) sambil
sesekali bolak balik ke kuadran
TAHU, lama kelamaan kemudian
bergerak ke kuadran TERAMPIL
(kompetensi), kemudian yang
terakhir adalah kuadran AHLI
(pengakuan). Dan dari kuadran
AHLI, bergerak lagi ke kuadran
TAHU, demikian seterusnya.
Tidak semua orang melalui keempat
kuadran tersebut. Ada yang dari
kuadran TAHU langsung ke kuadran
AHLI. Ada yang dari kuadran BISA,
langsung ke kuadran AHLI. Namun,
semuanya butuh proses.
Menurut Bob Sadino, lama
berproses di kuadran BISA untuk
dapat maju ke kuadran TERAMPIL,
dibutuhkan waktu minimal 20
tahun!.. Itu artinya kalau mulai
usahanya sejak punya anak,
seseorang baru bisa dikatakan
terampil di bidangnya ketika
anaknya sudah masuk di perguruan
tinggi (dengan asumsi bisnisnya
tetap berjalan lancar dan asumsi
ceteris paribus lainnya).
Kuadran BISA-lah kuadran yang
paling menguji mental para
pengusaha. Sebab kuadran BISA
adalah kuadran dimana seseorang
harus terus menerus bergerak
menjalankan bisnis yang
digelutinya.
Lalu bagaimana dengan kuadran
TERAMPIL? Menurut Bob Sadino,
orang-orang yang berada di
kuadran TERAMPIL adalah orang-
orang yang accountable, yaitu
memiliki kemampuan mengatasi
persoalan secara bertanggungjawab
(sebab sudah memiliki kompetensi
sebagai hasil belajar di kuadran
BISA). Sedangkan kuadran AHLI,
beda tipis dengan kuadran
TERAMPIL. Di kuadran AHLI, segala
kompetensi dan akuntabilitas yang
dimiliki orang tersebut diakui oleh
masyarakat/khalayak umum.
Contoh konkret:
Saya sekarang berproses di kuadran
BISA sebagai layouter buku. Saya
masih bolak-balik berdialektika dari
kuadran TAHU (teori/pedoman tata
cara layout) ke kuadran BISA
(praktik melayout). Jika proses ini
terus menerus saya jalani, maka
lama kelamaan akan muncul
kompetensi. 20 tahun kemudian
saya akan menjadi seorang layouter
profesional karena kompetensi
yang saya miliki (meskipun
kenyataannya, tidak butuh waktu
sampai 20 tahun untuk menjadi
seorang layouter profesional), maka
saya pun memasuki kuadran
TERAMPIL. Ketika nama saya sudah
sangat dikenal dan diakui oleh
dunia penerbitan sebagai layouter
terbaik, maka saat itulah saya
berada di kuadran AHLI.
Saya sekarang masih berstatus
mahasiswa ilmu ekonomi concern
bidang moneter (selama belum
yudisium berarti masih mahasiswa
kan ya? :D). Ini berarti saya sedang
berproses di kuadran TAHU. Ketika
saya sudah lulus dan bekerja di
sektor keuangan, berarti saya
terjun ke kuadran BISA.
Berprosesnya saya di kuadran BISA
selama 20 tahun sebagai analis
ekonomi akan memunculkan
kompetensi tersendiri bagi saya
dalam menganalisa perekonomian,
maka saya pun memasuki kuadran
TERAMPIL. Dan ketika nama saya
diakui oleh masyarakat sebagai ahli,
maka saat itulah saya beralih ke
kuadran AHLI. Hmm..tapi kalau
yang ini utopis banget deh
kayaknya, soalnya makroekonomi
advance aja ngulang sampe 3
tahun. =))
Saya sekarang masih berusia 20+
(yang jelas masih kepala 2 lah ya).
Saya belajar memasak (kadang-
kadang), saya suka membaca, hobi
menulis, suka bikin perencanaan
keuangan, dan sedang berproses
belajar agama dengan baik. Saya
sedang berproses di kuadran TAHU.
Ketika nantinya saya menikah,
maka saya mulai memasuki kuadran
BISA (praktik). Kegiatan praktik
saya jadinya: mengurus suami dan
anak-anak; membuat perencanaan
keuangan keluarga setiap periode;
mengajar anak-anak mengaji,
beribadah dan belajar membaca;
etc. 20 tahun kemudian, saya
memasuki kuadran TERAMPIL,
kuadran dimana saya sudah ada
pada tahap mempersiapkan anak
saya menjadi dewasa seutuhnya.
Sayangnya kalau untuk case yang
ini, nggak perlu pengakuan
khalayak umum untuk bisa disebut
AHLI (baca: ibu rumah tangga yang
baik), sebab semua IBU tentu saja
AHLI.. heheheh. Heduuww.. kalau
contoh yang ini sangat amat utopis.
Hahahhaa....
Nah..kira-kira seperti itu
contohnya. Kamu bisa bikin contoh
sendiri untuk dirimu. Pada intinya
RBS bisa diterapkan untuk bidang
apa saja. Jadi, di kuadran manakah
kamu sekarang? :D
***
Jumat, 09 November 2012
Episode Bob Sadino: Roda Bob Sadino beserta Contoh ala Dyah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar